Membedah Proposal Vendor – Coba bayangkan: Anda baru saja menerima tiga proposal untuk proyek IT baru Anda. Proposal A harganya Rp 50 Juta, Proposal B Rp 150 Juta, dan Proposal C Rp 95 Juta.
Jujur saja, mata Anda pasti langsung tertuju ke mana?
Kebanyakan dari kita, apalagi di Indonesia, pasti langsung melirik angka total di baris terakhir. Mana yang paling murah? Mana yang “masuk bujet”? Nah, di sinilah seringkali letak jebakan pertamanya.
Memilih vendor IT hanya berdasarkan harga terendah adalah salah satu kesalahan paling klasik dan, ironisnya, bisa jadi yang paling mahal dalam bisnis. Bagi kami di Nusait.com, proposal harga itu sering kami sebut sebagai “kotak hitam”. Anda melihat angka totalnya, tapi Anda tidak benar-benar paham apa detail di baliknya.
Artikel ini adalah panduan praktis dari kami untuk Anda. Kami akan bantu Anda membedah proposal vendor, langkah demi langkah, dari proposal umum hingga studi kasus tricky seperti analisis proposal aplikasi.
Kita akan ubah fokus Anda dari sekadar melihat “Harga Beli” di depan, menjadi menganalisis “Total Biaya Kepemilikan” atau Total Cost of Ownership (TCO) yang sebenarnya.
Daftar isi
- Kenapa Harga Termurah Sering Jadi yang Termahal? (Analogi Gunung Es)
- Langkah 1: Jangan Minta Proposal Dulu! (Siapkan Amunisi Internal)
- Langkah 2: Membedah Angka Total (Studi Kasus: Analisis Proposal Aplikasi)
- Langkah 3: Cara Membandingkan Apel, Jeruk, dan Durian
- Langkah 4: Checklist Negosiasi Harga & Pertanyaan Maut untuk Vendor IT
- Langkah 5: Lampu Merah vs. Lampu Hijau (Red Flag vs. Green Flag)
- Kesimpulan: Membedah Proposal Vendor Bukan Soal Berburu Diskon, Ini Investigasi “Best Value”
- FAQ (Tanya Jawab Seputan Membedah Proposal Vendor)
Kenapa Harga Termurah Sering Jadi yang Termahal? (Analogi Gunung Es)
Ini adalah kesalahan klasik yang paling sering kami lihat. Kita membandingkan “Harga Pembelian” di awal. Padahal, proposal termurah itu seringkali jadi yang paling mahal, loh. Kok bisa?
Bayangkan saja sebuah gunung es.
Harga proposal yang Anda lihat di awal (biaya pengembangan atau Capital Expenditure / CapEx) hanyalah puncak gunung es yang terlihat di atas air. Kecil.
Bagian terbesar, yang 90% tersembunyi di bawah air, adalah Operational Expenditure (OpEx). Nah, ini adalah “biaya hantu” yang akan terus menagih Anda:
- Biaya server cloud yang mungkin naik tiap tahun.
- Biaya lisensi software pihak ketiga.
- Biaya maintenance yang tiba-tiba muncul.
- Biaya support jika ada masalah.
- Biaya upgrade sistem di masa depan.
Di Indonesia, TCO ini bukan cuma teori. Ini nyata. Fokus Anda seharusnya bukan mencari yang termurah saat dibangun, tapi yang total biayanya paling efisien selama 3-5 tahun ke depan.
Langkah 1: Jangan Minta Proposal Dulu! (Siapkan Amunisi Internal)
Stop! Jangan buru-buru kirim email minta proposal ke lima vendor sekaligus.
Sebelum membedah proposal vendor / orang lain, kita harus “bersih-bersih” di rumah sendiri dulu. Perang sesungguhnya dimulai dari internal. Jika permintaan Anda ambigu, Anda akan mendapatkan proposal yang “sampah” dan tidak bisa dibandingkan.
Ini amunisi yang wajib Anda siapkan:
- Miliki KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang Kuat. Jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah meminta proposal dengan brief sebaris seperti, “Saya mau buat aplikasi mirip Gojek, tapi lebih murah.” Anda akan dapat proposal “asal jadi”. KAK yang detail adalah kitab suci bagi vendor. Semakin detail KAK Anda, semakin akurat proposal yang akan Anda terima.
- Buat HPS (Harga Perkiraan Sendiri). Ini adalah istilah penting di dunia pengadaan Indonesia. HPS atau Owner Estimate adalah estimasi biaya wajar yang Anda susun sebelum proposal vendor masuk. Kenapa ini penting? Karena HPS adalah ‘jangkar’ negosiasi Anda. Evaluasi Anda jadi bergeser, dari “Vendor A lebih murah dari Vendor B” menjadi “Seberapa jauh harga Vendor A dan B dari estimasi wajar internal kita?” Ini memberi Anda kontrol penuh.
- Waspadai Bias Tim Evaluator Internal. Jujur saja, ini sering kejadian. Masalah terbesar seringkali bukan di proposalnya, tapi di tim penilai kita. Saya ingat dulu ada klien di Surabaya, tim IT internalnya keukeuh (bersikeras) bilang Vendor A jelek karena “katanya” teknologinya kuno. Padahal, setelah dicek, vendor itu justru yang paling stabil. Ujung-ujungnya, vendor yang bagus bisa terdepak cuma gara-gara ‘perasaan’ atau ‘selera’ satu orang. Cara mengatasinya? Wajibkan evaluasi individu terlebih dahulu. Jangan adakan rapat konsensus di awal! Biarkan setiap evaluator memberi skor secara objektif, baru kumpulkan dan diskusikan.
Langkah 2: Membedah Angka Total (Studi Kasus: Analisis Proposal Aplikasi)
Oke, sekarang kita masuk ke bagian inti: analisis proposal aplikasi. Ini adalah salah satu proposal paling tricky yang sering kami temui.
Peringatan: Model Harga “Mandays” adalah Pedang Bermata Dua
Banyak software house di Indonesia menggunakan model harga berbasis Mandays. Rumusnya kelihatannya sederhana:
Budget = (Estimasi Jumlah Mandays) x (Jumlah Developer) x (Rate Mandays)
Benchmark rate di Jakarta atau Bandung bisa bervariasi, katakanlah Rp 2.000.000 per manday.
Masalahnya? Model ini adalah “pedang bermata dua”. Vendor bisa dengan mudah “menggelembungkan” estimasi. Kita sebagai klien, mana tahu bedanya fitur X itu wajarnya 10 mandays atau 20 mandays?
Solusinya: Jangan hanya terima angka total mandays. Minta breakdown estimasi mandays per fitur atau per sprint. Ini penting agar Anda bisa negosiasi scope dengan jelas. (“Oke, kalau fitur Laporan PDF kita hapus, berapa mandays yang berkurang?”)
Tabel: Membedah RAB (Rencana Anggaran Biaya) Aplikasi Web
Proposal yang transparan akan memisahkan dengan jelas antara CapEx (biaya bangun) dan OpEx (biaya jalan). Gunakan checklist ini untuk membedah RAB mereka:
| Kategori Biaya | Komponen | Estimasi Biaya (Benchmark) | Yang Harus Anda Tanyakan (Checklist) |
| A. Biaya Pengembangan (CapEx) | Desain UI/UX | Rp 5jt – 20jt | Berapa jumlah screens? Termasuk prototyping di Figma? |
| Pengembangan (Frontend/Backend) | (Total Mandays x Rate) | Berapa total mandays? Berapa rate per manday? | |
| Quality Assurance (QA) | 15-30% dari biaya Dev | Apakah QA ini tim terpisah, atau hanya testing oleh developer? | |
| B. Biaya Infrastruktur (OpEx) | Domain | Rp 150rb – 300rb / tahun | Domain ini didaftarkan atas nama siapa? Anda atau Vendor? |
| Server/Hosting (Cloud) | Rp 1jt – 30jt / tahun | Speknya apa (VPS/Cloud)? Cukup kuat untuk traffic 1000 orang/hari? | |
| C. Biaya Pihak Ketiga (OpEx) | Lisensi Software / API | Bervariasi | Lisensi apa saja yang dipakai? (Misal: Google Maps API) |
| Payment Gateway (misal: Midtrans) | Biaya per transaksi | Siapa yang menanggung MDR (biaya transaksi)? Klien atau vendor? | |
| Layanan Email/SMS (misal: MailGun) | Biaya bulanan/penggunaan | Siapa yang bayar biaya kirim OTP dan notifikasi email? | |
| D. Biaya Pasca-Proyek (OpEx) | Pemeliharaan (Maintenance) | 15-25% dari biaya proyek / tahun | Apa saja yang termasuk? (Bug fixing? Update security?) |
| Garansi | (Biasanya gratis) | Berapa lama masa garansi bug fixing setelah go-live? 30 hari? 90 hari? |
Biaya Tersembunyi (TCO) yang Sering ‘Lupa’ Dicantumkan
Fokus klien seringkali hanya pada Biaya A (CapEx). Padahal, Biaya B, C, dan D (OpEx) adalah ‘biaya hantu’ yang akan terus menagih Anda. Proposal yang ‘jujur’ akan memaparkan estimasi biaya OpEx ini. Proposal yang ‘menjebak’ sering “lupa” mencantumkan biaya third-party (seperti Midtrans atau MailGun) agar proposal mereka terlihat lebih murah di awal.
Langkah 3: Cara Membandingkan Apel, Jeruk, dan Durian
Ini juga masalah klasik yang bikin pusing tujuh keliling. Vendor A kirim proposal dalam PDF cantik, sementara Vendor B dalam spreadsheet Excel yang rumit. Vendor C kirim dalam presentasi.
Gimana bandinginnya? Ini seperti membandingkan apel, jeruk, dan durian. Beda semua!
Bahkan, ini bisa jadi salah satu red flag (tanda bahaya): vendor sengaja memberikan format berbeda untuk mengaburkan perbandingan.

Solusinya: Jangan membandingkan dokumen mereka. Titik. Buat satu templat internal Anda sendiri (kami di Nusait.com menyebutnya Matriks Perbandingan Vendor), lalu “paksa” semua data dari setiap proposal masuk ke matriks tersebut.
Di sinilah Anda menerapkan Weighted Scoring (Metode Pembobotan) untuk menemukan Best Value. Sebelum proposal dibuka, tim Anda harus sepakat dulu soal bobotnya. Sehingga ketika membedah proposal vendor, seluruh parameter sudah bersifat objektif.
Misalnya:
- Harga (TCO): Bobot 40%
- Kualitas Teknis & Solusi: Bobot 30%
- Pengalaman & Kapasitas Vendor: Bobot 15%
- Dukungan & Komunikasi: Bobot 15%
Kemudian, setiap evaluator memberi skor (misal 1-5) untuk setiap vendor.
Tabel: Template Matriks Perbandingan Vendor (Metode “Apples-to-Apples”)
| Kriteria Evaluasi | Bobot (%) | Vendor A (Skor 1-5) | Vendor B (Skor 1-5) | Vendor C (Skor 1-5) |
| Harga (TCO) | 40% | 5 (Termurah – Rp 250jt) | 3 (Tengah – Rp 300jt) | 2 (Termahal – Rp 350jt) |
| Kualitas Teknis & Solusi | 30% | 3 (Cukup) | 5 (Sangat Baik) | 5 (Sangat Baik) |
| Pengalaman & Kapasitas | 15% | 4 (Baik) | 4 (Baik) | 5 (Sangat Baik) |
| Dukungan & Komunikasi | 15% | 3 (Cukup) | 4 (Baik) | 5 (Sangat Baik) |
| Total Skor Tertimbang | 100% | 3.85 | 4.05 | 4.10 |
| Keputusan | (Harga Terendah) | (Nilai Seimbang) | (Pemenang: Best Value) |
Lihat, kan? Vendor A yang termurah (skor 5 di harga) malah kalah. Vendor C menang bukan karena murah, tapi karena menawarkan Best Value (nilai terbaik) secara keseluruhan. Data mengalahkan ‘perasaan’.
Langkah 4: Checklist Negosiasi Harga & Pertanyaan Maut untuk Vendor IT
Setelah punya skor objektif, saatnya masuk tahap “interogasi” alias due diligence. Checklist negosiasi harga terbaik Anda adalah data HPS (Langkah 1) dan Matriks Perbandingan (Langkah 2) tadi.
Sekarang, fokus Anda adalah mengajukan pertanyaan untuk vendor ITyang tajam.
Checklist Umum (Non-Harga)
Gunakan tiga pilar evaluasi ini untuk memandu pertanyaan Anda:
- Kelayakan Teknis: “Kenapa Anda memilih teknologi X? Apa bedanya dengan teknologi Y?”
- Biaya dan Harga: “Bisa tolong jelaskan rincian biaya maintenance tahunan ini?”
- Pengalaman dan Kapasitas: “Bisa tunjukkan studi kasus di industri yang mirip dengan kami? Siapa tim yang akan mengerjakan proyek ini?”
Pertanyaan Kritis untuk Vendor IT (Mengungkap Risiko Tersembunyi)
Dari pengalaman kami di lapangan, ada dua area risiko terbesar:
1. Risiko Ketergantungan Personel (Key-Person Risk) Seringkali, proyek sukses karena 1-2 orang kunci di vendor. Kalau mereka resign, proyek Anda bisa berantakan.
- “Tim yang akan mengerjakan proyek kami ini staf permanen atau kontrak?”
- “Apa rencana darurat Anda jika Project Manager atau Lead Developer proyek ini resign di tengah jalan?”
2. Risiko Total Cost of Ownership (TCO) Ini adalah pertanyaan untuk “menjebak” vendor agar jujur soal biaya jangka panjang.
- “Setelah garansi habis, skema support Anda seperti apa? Sudah termasuk dalam biaya maintenance bulanan?”
- “Pertanyaan Pembunuh TCO”: (Ini favorit saya) “Jika 5 tahun lagi ada update software besar dari Anda, apakah sistem kami ini kompatibel? Atau kami harus bayar lagi untuk re-develop (bangun ulang)?”
Jawaban atas pertanyaan terakhir itu akan mengungkap potensi vendor lock-in (ketergantungan pada vendor) dan TCO tak terbatas. Pastikan jawabannya tertulis di kontrak!
Langkah 5: Lampu Merah vs. Lampu Hijau (Red Flag vs. Green Flag)
Terakhir, Anda perlu jadi detektif ketika berkaitan dengan proses membedah proposal vendor. Proposal itu memberi Anda sinyal apa? Bahaya (Lampu Merah) atau Aman (Lampu Hijau)? Ini adalah rangkuman proposal red flag dan green flag yang harus Anda catat.

Hati-hati! Ini Tanda Bahayanya (Red Flags)
- Peringatan Awal dari Anda: Seringkali, red flag pertama justru datang dari KLIEN. KAK atau RFP yang ambigu, tidak jelas, atau “didaur ulang” dari proyek lama adalah undangan bagi vendor nakal untuk memberi proposal seenaknya.
- Harga “Terlalu Murah”: Harga yang “terlalu bagus untuk jadi kenyataan”. Ini red flag besar. Kemungkinan besar ada biaya OpEx yang disembunyikan atau mereka akan pakai tim junior untuk proyek Anda.
- Perilaku Vendor Aneh: Vendor hanya mau bicara dengan bagian procurement (pengadaan) dan menolak diskusi dengan tim user atau teknis Anda. Mereka takut ketahuan kalau tidak menguasai teknisnya.
- Format Lump Sum: Biaya disajikan “borongan” (misal: “Biaya Pengembangan: Rp 200 Juta”) tanpa ada rincian mandays atau per fitur.
- Vendor Fiktif: Alamat kantor vendor adalah virtual office atau alamat pos, bukan kantor fisik (cek Google Maps!).
Nah, Ini Dia Sinyal Aman (Green Flags)
- Transparansi Proposal: Rincian biaya sangat transparan. Mereka dengan jelas memisahkan mana CapEx dan mana estimasi OpEx.
- Proposal “Nişanı”: Proposal terlihat sangat customized dan menjawab setiap poin di KAK Anda. Ini menunjukkan mereka benar-benar membaca dan memahami masalah Anda, bukan sekadar templat “copy-paste”.
- Proaktif Bertanya: Sebelum mengirim proposal, vendor aktif bertanya via email atau telepon untuk klarifikasi KAK Anda. Ini tanda mereka serius dan profesional.
- Kepatuhan (Konteks Indonesia): Ini sinyal kepercayaan yang kuat di pasar lokal.
- Jika mereka distributor resmi, mereka bisa menunjukkan STP (Surat Tanda Pendaftaran) Keagenan/Distributor.
- Jika terkait Tanda Tangan Elektronik, vendor tersebut tersertifikasi PSRE (Penyelenggara Sertifikasi Elektronik) dan diakui oleh Kominfo.
- Mereka memiliki program kepatuhan (corporate compliance) yang jelas.
Kesimpulan: Membedah Proposal Vendor Bukan Soal Berburu Diskon, Ini Investigasi “Best Value”
Jadi, jelas ya. Membedah proposal vendor itu bukan soal berburu diskon atau mencari harga termurah. Ini adalah proses investigasi untuk menemukan Best Value (nilai terbaik) dan Total Cost of Ownership (TCO) terendah.
Proposal termurah di awal bisa jadi yang paling mahal tiga tahun lagi karena biaya tersembunyi, maintenance yang buruk, atau Anda “terkunci” (vendor lock-in) dan tidak bisa pindah ke lain hati.
Langkah Anda Selanjutnya: Jangan biarkan angka total di baris terakhir menipu Anda. Saatnya membedah detailnya. Gunakan Matriks Perbandingan Vendor (Langkah 3) dan Checklist Pertanyaan Kritis (Langkah 4) pada evaluasi proposal Anda berikutnya.
Kalau pusing? Hubungi kami di Nusait.com. Hehehe, setidaknya sekarang Anda tahu persis apa yang harus Anda tanyakan pada kami.
FAQ (Tanya Jawab Seputan Membedah Proposal Vendor)
- Apa kriteria utama evaluasi proposal vendor selain harga?
- Ada tiga pilar utama, dan harga cuma salah satunya. Pertama, Kelayakan Teknis (apakah solusinya masuk akal?). Kedua, Biaya dan Harga (ini bukan cuma harga awal, tapi TCO atau total biaya kepemilikan). Ketiga, Pengalaman dan Kapabilitas Vendor (mereka punya rekam jejak, tim yang solid, dan stabil secara finansial atau tidak?).
- Bagaimana cara membandingkan proposal yang formatnya beda-beda? Satunya PDF, satunya Excel.
- Nah, ini jebakan klasik. Jangan bandingkan dokumennya. Buat satu templat Excel internal Anda sendiri (kami menyebutnya Matriks Perbandingan Vendor), lalu “paksa” semua data dari setiap proposal masuk ke matriks itu. Baru Anda bisa bandingkan “apples-to-apples” secara objektif.
- Apa itu HPS dan kenapa saya harus repot membuatnya?
- HPS itu Harga Perkiraan Sendiri (atau Owner Estimate). Anda wajib repot membuatnya sebelum proposal masuk. Kenapa? Ini adalah “jangkar” harga Anda. Tanpa HPS, Anda hanya akan membandingkan “mahal vs. murah”. Dengan HPS, Anda membandingkan “wajar vs. tidak wajar” berdasarkan estimasi internal Anda. Ini memberi Anda kekuatan negosiasi yang besar.
- Apa red flag (tanda bahaya) terbesar dalam proposal IT?
- Jujur? Harga yang “terlalu murah”. Biasanya ini menyembunyikan banyak biaya OpEx (operasional) atau mereka akan menugaskan tim junior untuk proyek Anda. Selain itu, hati-hati jika rincian biayanya lump sum (borongan, tidak detail) dan jika vendor menolak diskusi dengan tim teknis atau user Anda.
- Apa pertanyaan paling penting untuk ditanyakan ke vendor IT?
- Saya punya satu “Pertanyaan Pembunuh TCO” favorit: “Jika 5 tahun lagi ada update software besar dari Anda, apakah sistem kami ini kompatibel? Atau kami harus bayar lagi untuk re-develop (bangun ulang)?” Jawaban mereka akan mengungkap potensi vendor lock-in dan TCO tak terbatas.





